Tampilkan postingan dengan label closing case. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label closing case. Tampilkan semua postingan

Case Study: "You Americans Work Too Hard"



Case Study: "You Americans Work Too Hard"

The closing case examines the differences in work ethic between a German department store employee and an American department store employee.

Key Points:
Andreas Drauschke and Angie Clark hold positions at similar levels in department stores, and receive similar pay. However, Drauschke, who works in Germany, works far fewer hours than Clark, who works in the U.S.
In fact, Drauschke works just 37 hours a week and receives six weeks' vacation each year, while Clark works at least 44 hours a week and takes off only a week at a time. Clark notes that Germans see leisure time as being more important than work time.
The difference between the German work style and the American work style extends into other areas. For example, turnover at the German store is all but nonexistent, while at the American store it is 40 percent a year. In addition, German employees receive extensive training, while workers at the American store receive minimal instruction.
Many employees at the American store also have a second job; however, Drauschke values his free time, and works no longer than absolutely necessary. His viewpoint is shared by other Germans, who fiercely protested the recent mandate that department stores would stay open one evening each week. Germany also prohibits working second jobs during vacation time.



Kasus Penutup
“KALIAN ORANG AMERIKA BEKERJA TERLALU KERAS”

Andreas Drauschke dan Angie Clark bekerja dengan pekerjaan yang sebanding untuk gaji yang sebanding pula di  department store di Berlin dan pinggiran kota Washington D.C. Namun disana tidak ada perbandingan ketika menjelang waktu mereka istirahat.
Pekerjaan Mr. Drauschke membutuhkan 37 jam seminggu dengan 6 minggu cuti pertahun. Tokonya tutup di akhir pekan pada jam 2 Sabtu siang dan tetap buka satu malam tiap minggu –pelayanan baru di Jerman yang dibenci Tuan Drauschke. “Saya tidak mengerti mengapa orang berbelanja di malam hari di Amerika,” kata pria 29 tahun itu, yang mengawasi divisi otomotif, sepeda motor, dan sepedadi Karstadt, rangkaian department store terbesar di Jerman.” Secara logika berbicara, mengapa seseorang perlu membeli sepeda pada jam 8.30 malam?”
Nyonya Clark bekerja setidaknya 44 jam seminggu, termasuk shift malam dan sering kali Sabtu dan minggu. Beliau sering membawa pulang pekerjaannya ke rumah bersamanya, menghabiskan hari liburnya memandu kompetisi, dan tidak pernah mengambil lebih dari satu minggu cuti bersamaan. “Jika saya mengambil lagi, saya merasa saya kehilangan kendali,” kata senior manajer perdagangan di J.C. Penney di Springfield, Virginia.
Nyonya Clark yang berusia 50 tahun lahir di Jerman namun merasa seperti alien ketika beliau mengunjungi tanah kelahirannya tersebut. “Jerman mendahulukan waktu luang dan kerja kemudian,” katanya. “Di Amerika itu adalah sebaiknya.”
Sementara orang-orang Ameria sering kagum dengan perindustrian Jerman, sebuah perbandingan ledakan beban kerja sebenarnya seperti stereotip nasional. Dalam manufaktur, contohnya, rata-rata mingguan di Amerika Serikat 37,7 jam dan meningkat; di Jerman hanya 30 jam dan menurun secara tetap selama beberapa dekade terakhir. Semua pekerja Jerman dijamin oleh hukum minimal 5 minggu libur tahunan.
Satu hari yang dihabiskan di departement store Jerman dan Amerika juga menunjukkan jurang lebar pada etika kerja kedua negara, setidaknya diukur dengan sikap selama waktu kerja. Orang Jerman dengan tegas menolak gangguan apapun di jam santai mereka, sementara banyak pekerja J.C. Penney mengerjakan pekerjaan kedua dan terbebani 60 jam kerja seminggu.
Namun jam yang lama dan tidak biasa sesuai dengan harganya. Staf yang absen di toko Jerman dapat diabaikan; di J.C. Penney hal itu 40 persen pertahun. Jerman melayani pegawai magang  2 hingga 3 tahun dan tahu mereka berharap masuk. Pekerja di J.C. Penney menerima pelatihan 2 hingga 3 hari. Dan ini merupakan kebutuhan ekonomi,  lebih dari pengabdian apapun demi bekerja untuk kepentingannya sendiri, yang muncul untuk memotivasi kebanyakan tenaga kerja Amerika.
“Mulanya itu adalah kebutuhan dan kemudian menjadi ketamakan,” kata Sylvia Johnson, yang menjual penuh waktu di J.C. Penney dan bekerja 15 hingga 20 jam lainnya seminggu melakukan entry data di komputer perusahaan. Kedua pekerjaan itu membantunya memasukkan satu anaknya ke sekolah kedokteran dan yang lainnya ke universitas. Sekarang Nyonya Johnson, 51, mengatakan beliau tidak perlu bekerja terlalu keras –namun masih melakukannya.
“Suami saya dan saya memiliki rumah yang nyaman dan tiga mobil,” kata beliau. “Tapi saya pikir anda akan selalu merasa seperti menginginkan sesuatu yang lebih sebagai penghargaan untuk semua kerja keras yang telah anda lakukan.”
Tuan Drauschke, pengawas Jerman, memiliki pandangan yang berbeda: kerja keras ketika anda dalam pekerjaan dan keluar secepat yang anda bisa. Tukang kebun yang bersemangat dengan seorang istri dan anak yang mash kecil, dia datang 20 menit lebih awal daripada staf yang lainnya tapi sebaliknya dia tidak memiliki ketertarikan dalam bekerja selain 37 jam mandat kontraknya, bahkan jika itu berarti uang lebih. “Waktu luang tidak bisa diganti,” katanya.
Hasrat untuk menjaga waktu kerja tetap pendek adalah sebuah obsesi di Jerman –dan misi konstan dari persatuan kekuasaannnya. Ketika Jerman mengenalkan belanja Kamis malam pada 1989, pekerja retail melakukan pemogokan. Dan Tuan Drauschke menyadari bahwa sulit bagi staf untuk melakukan 2 jam ekstra pada Kamis malam, meskipun shift malam dihargai dengan satu jam lebih sedikit dari pekerjaan seluruhnya. “Istri saya menentang dengan kedatangan saya yang pulang larut malam,” satu pekerja mengatakan padanya ketika ditanya apakah dia akan bekerja hingga jam 8.30 malam pada Kamis selanjutnya.
Tuan Draschke, seperti orang Jerman lainnya, juga menyadari kebiasaan orang Amerika yang mengambil pekerjaan sampingan yang tidak bisa dipahami. “Saya sudah pulang jam 7. Kapan saya harus bekerja?” dia bertanya. Ketika berlibur, itu ilegal –ya, ilegal- bagi orang Jerman untuk bekerja dengan pekerjaan lain selama liburan, waktu yang “jelas untuk memulihkan diri,” jelas Tuan Draschke. Dia menambahkan, “Jika kita memiliki kondisi seperti Amerika, anda akan berpikir keras jika anda ingin meneruskan pekerjaan ini.”
Di J.C. Penney, hari kerja dari manajer perdagangan Nyonya Clark dimulai jam 8 pagi ketika dia menaiki layanan lift ke ruangannya yang tanpa jendela di kantornya. Meskipun toko belum buka hingga jam 10 pagi, dia merasa dia membutuhkan waktu ekstra untuk memeriksa pajangan lantai dan jadwal. Kebanyakan staf penjualan datang sekitar jam 9 pagi untuk menata daftar dan stok ulang rak –sebuah kontras tajam dengan Karstadt, dimana staf penjualan datang tepat sebelum toko buka.

Pertanyaan Kasus

  • 1.      Bagaimana HRM di Amerika Serikat berbeda dengan HRM di Jerman?
  • 2.      Apa yang anda lihat sebagai dasar keuntungan dan kerugian dari setiap sistem?
  • 3.      Jika anda adalah eksekutif tinggi HRM untuk rangkaian departemen store internasional dengan toko di kedua negara Jerman dan Amerika Serikat, apa persoalan dasar yang akan anda butuhkan untuk dibahas mengenai kebijakan HR perusahaan?
  • 4.      Apakah persoalan tersebut lebih atau sedikit gawat dalam industri retailing versus industri lainnya?
  • 5.      Dibawah sistem mana yang anda sukai untuk bekerja?

    Case Questions

    Q1: How does HRM in the United States differ from HRM in Germany?

    Q2: What do you see as the basic advantages and disadvantages of each system?

    Q3: If you were the top HRM executive for an international department store chain with stores in both Germany and the United States, what basic issues would you need to address regarding corporate HR policies?

    Q4: Are the issues more or less acute in the retailing industry versus other industries?

    Q5: Under which system would you prefer to work?