Tampilkan postingan dengan label krisis ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label krisis ekonomi. Tampilkan semua postingan

Melawan COVID-19: Catatan dalam Pembentukan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Dan Pemulihan Ekonomi Indonesia

 

Melawan COVID-19: Catatan dalam Pembentukan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Dan Pemulihan Ekonomi Indonesia


A.    Pendahuluan

Tahuan 2020, manusia si seluruh dunia tengah dihadapkan pada musibah yang cukup berat. Musibah tersebut adalah kemunculan pandemi baru yang kini disebut sebagai pandemi COVID-19 (Coronavirus Disease 2019).  COVID-19 merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh jenis virus corona baru yang sebelumnya belum pernah ditemukan, dan nama tersebut ditetapkan pada tanggal 12 Februari 2020 lalu. Bermula ketika ada informasi dari pihak WHO pada tanggal 31 Desember 2019 yang menerima laporan tentang adanya kasus kluster pneumonia dengan etiologi yang tidak jelas di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kasus ini terus berkembang hingga adanya laporan kematian dan terjadi importasi di luar China  (WHO, 2020). Hingga pada akhirnya, tanggal 11 Maret 2020, WHO menetapkan COVID-19 sebagai sebuah pandemi (Sebayang, 2020).

Bersamaan dengan kemunculan COVID-19 sebagai pandemi yang telah terjadi diseluruh penjuru dunia, setiap negara yang sudah terinfeksi dengan segeram membentuk sebuah satuan tugas tertentu yang utamanya bertugas untuk mengangani kasus COVID-19 terjadi dinegaranya. Mereka biasanya berfungsi untuk mengkoordinasikan pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan COVID-19 di negaranya. Di Indonesia sendiri, Pemerintah membuat sebuah Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Namun belakngan diketahui bahwa gugus tugas ini dibubarkan dan digantikan dengan organisasi baru bernama Satuan Tugas Penanganan COVID-19. Pembentukan satuan tugas ini berkaitan dengan adanya rencana pemulihan perekomomian negara yang lemah akibat dampak COVID-19,yang pada dasarnya membuat sejumlah aktivitas sehari-hari harus dihentikan, termasuk dalam bisang perekonomian. Disini ada anggapan bahwa jika situasi dibiarkan, maka dapat menimbulkan dampak yang lebih buruk dimasa depan, khususnya di bidang prekonomian. Mengenai hal ini, maka disini akan dibahas tentang sebuah catatan yang berkitan dengan pembentukan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Indonesia.

B.     Pembahasan

1.      Kasus COVID-19 di Indonesia

Pandemi COVID-19 telah menyebar ke seluruh dunia. Dan hingga saat ini korban yang terinfeksi masih terus bertambah. Terhitung hingga tanggal 4 Agustus 2020, jumlah total kasus secara global mencapai 18.431.820 (18,4 juta) kasus. Dari jumlah total tersebut, ada sebanyak 11.660.193 (11,6 juta) pasien telah sembuh, dan 696.751 orang meninggal dunia. Kasus aktif hingga saat ini tercatat sebanyak 6.074.876 dengan rincian 6.010.140 pasien dengan kondisi ringan dan 64.736 dalam kondisi serius. Sedangkan untuk negara dengan jumlah kasus terbanyak masih tetap tercatat dari merika Serikat, dengan total 4.860.512 kasus, dimana 158.899 orang diantaranya telah meninggal, sementara 2.443.592 orang lainnya telah sembuh (Bramasta & Hardiyanto, 2020).

 

2.      Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa untuk menangani kasus COVID-19 dalam negeri, Indonesia membantu gugus tugas khusus yang berfungsi menangani COVID-19, yang mana ini diberi nama sebagai Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Ini merupakan sebuah gugus tugas yaang dibentuk pemerintah Indonesia untuk mengkoordinasikan kegiatan antar lembaga dalam upaya mencegah dan menanggulangi dampak penyakit koronavirus baru di Indonesia. Gugus tugas tersebut diketuai oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo. Pembentukan gugus tugas tersebut berdasaan Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2020 yang ditandatangani pada 13 Maret 2020. Gugus tugas itu berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. 

 

3.      Pembentukan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Dan Pemulihan Ekonomi Indonesia

Belakangan diketahui bahwa Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang bertugas untuk menangani pandemi dibubarkan. Hal ini sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Dalam Pasal 20, perpres ini menyebutkan bahwa Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di daerah dibubarkan seiring dengan dicabutnya Keppres 9/2020 (Asmara, 2020).

Namun demikian, sebanarnya Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 tidak dibubarkan, melainkan kerja Gugus Tugas akan dilakukan oleh Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, setelah presiden membuat Komite Penanganan COVID-19, sesuai dengan Pepres Nomor 82 Tahun 2020. Satgas ini dibentuk untuk menyeimbangkan penanganan COVID-19 yang tidak hanya dari sektor kesehatan, tetapi juga untuk penanganan mengatasi krisis di sektor ekonomi. Tapi, sektor kesehatan masih menjadi prioritas utama Pemerintah selama vaksin untuk COVID-19 bisa ditemukan (Bardan & Perwitasari, 2020).  Satuan Tugas Penanganan COVID-19 ini pada dasarnya terdiri dari dua satuan tugas, yakni satuan tugas penanganan COVID-19 dan satuan tugas pemulihan ekonomi nasional. Dibentuknya satuan tugas ini oleh pemerintah diharapkan bisa memperbaiki kinerja pemerintah dalam menangani penanganan COVID-19 sekaligus memulihkan kehidupan ekonomi yang terpuruk selama pandemi berlangusng (Wiharso, 2020).




Ini hanya versi sampelnya saja ya...
Untuk file lengkap atau mau dibuatkan custom, silahkan PM kami ke
WA : 
0882-9980-0026
(Diana)

STRATEGI PENANGANAN RISIKO PELEMAHAN NILAI TUKAR RUPIAH

STRATEGI PENANGANAN RISIKO PELEMAHAN NILAI TUKAR RUPIAH


Hampir sepanjang tahun 2018 hingga bulan September ini, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Menurut catatan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang tertera pada situs Bank Indonesia, hingga Rabu 5 September 2018, US$1 setara Rp14.927. Sejumlah bank bahkan telah menjual dolar AS seharga Rp15.000 (Lingga, 2018). Dampak dari pelemahan ini, harga barang konsumsi yang bergantung pada produk impor berpotensi melonjak jika rupiah terus melemah.

Selain itu, rupiah juga perlu waspada terhadap rencana kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (Fed) dua kali lagi sepanjang bulan September sampai Desember 2018 (Nordiansyah, 2018). Kebijakan Fed ini dikhawatirkan akan membawa dampak keluarnya arus modal asing dari negara berkembang ke negara maju seperti Amerika Serikat. Jika hal tersebut terjadi maka dolar AS akan menguat sehingga berdampak terhadap mata uang negara lain termasuk rupiah yang akan semakin melemah. Pemerintah memang telah menyiapkan langkah strategis untuk menghadapi masalah tersebut, misalnya dengan penguatan sektor industri manufaktur penghasil devisa, mengurangi impor, mendukung sektor pariwisata dan perbaikan iklim investasi (Mahesa, 2018). Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai pihak masih tetap merasakan dampak dari pelemahan rupiah tersebut, salah satunya adalah para pelaku usaha yang beroperasi di Indonesia.

Terdapat berbagai risk event yang dikhawatirkan akan dihadapi oleh perusahaan, di antaranya adalah market risk, credit risk, liquidity risk, operational risk, legal and regulatory risk, business risk, strategic risk, dan reputation risk. Market risk atau risiko pasar adalah risiko yang akan terjadi apabila terdapat pergerakan variabel pasar yang berbeda dengan portofolio yang dimiliki oleh bank. Salah satu variabel pasar di sini adalah perubahan kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Risiko yang paling nyata dari hal ini adalah perubahan nilai dari aset yang dapat diperdagangkan atau disewakan. Di sisi lain untuk credit risk, perusahaan menghadapi risiko kredit dalam hal misalnya perusahaan tidak menerima pembayaran di muka secara tunai untuk produk atau jasa yang dijualnya. Akibatnya, perusahaan menanggung suatu risiko selama tenggang waktu penyerahan barang atau jasa dengan waktu pembayaran. Dengan pelemahan rupiah, dikhawatirkan terjadi penurunan daya beli yang akan meningkatkan risiko kredit bagi perusahaan.

Risiko likuiditas dapat disebabkan bank tidak mampu menghasilkan arus kas dari aset produktif, atau yang berasal dari hasil penjualan aset termasuk aset likuid, atau dari penghimpunan dana masyarakat, transaksi antar bank, atau pinjaman yang diterima (Ikatan Bankir Indonesia, 2012). Suatu perusahaan juga dapat terpapar terhadap risiko likuiditas jika pasar yang diikutinya mengalami penurunan likuiditas. Hal ini berbeda dengan risiko operasional, yang merupakan risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional bank (Ikatan Bankir Indonesia, 2014). Risiko operasional yang dihadapi perusahaan akibat melemahnya rupiah dapat dipicu oleh persentase kenaikan biaya bahan baku dan persentase kenaikan harga pokok penjualan.

Risiko hukum dan regulasi yang mungkin dihadapi oleh perusahaan dalam hal ini adalah saat pihak otoritas publik melarang penetapan kebijakan perusahaan tertentu, misalnya melarang dilakukan peningkatan harga padahal harga bahan baku telah meningkat drastis karena melemahnya nilai tukar rupiah. Risiko bisnis adalah risiko yang muncul dari keputusan investasi (Mardiyanto, 2009). Melemahnya nilai rupiah meningkatkan risiko bisnis karena adanys ketidakpastian tingkat pendapatan yang akan diterima oleh investor.

Risiko strategis merupakan pengeluaran-pengeluaran yang mengharuskan perusahaan untuk berpikir pada skala strategis (Umar, 2000). Risiko tersebut harus dipecahkan pada tingkat pimpinan dan memerlukan perencanaan strategis. Risiko strategis yang mungkin dihadapi perusahaan misalnya risiko kenaikan harga bahan baku, dan risiko perubahan tingkat bunga. Risiko reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholders yang berumber dari persepsi negatif terhadap perusahaan. Risiko reputasi ini muncul misalnya saat perusahaan terpaksa menaikkan harga produk untuk menghadapi melemahnya nilai rupiah, namun pelanggan memilih untuk menggunakan produk lain karena mereka menganggap harga yang ditawarkan terlalu murah.

Sebagai seorang pelaku usaha di Indonesia, penting untuk mengembangkan strategi pengelolaan risiko yang relevan untuk menghadapi berbagai risiko tersebut. Beberapa strategi risiko yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:

a.       Bauran produk
Perusahaan berencana untuk menerapkan strategi bauran produk atau strategi produk, yaitu suatu kegiatan digunakan oleh perusahaan dalam memasarkan sekumpulan lini produk yang ditawarkan pada pembeli. Tujuan dari dilakukannya strategi ini adalah untuk menunjang kegiatan perusahaan, dengan harapan dapat menjadi suatu bentuk kompensasi atas risiko yang ditimbulkan karena pelemahan nilai rupiah. Selain itu, juga ada berbagai alasan dilakukannya strategi produk untuk perusahaan. Di antaranya adalah setiap produk yang ada dalam perusahaan akhirnya tidak akan terpakai lagi karena pangsa pasar dan volume penjualan dikurangi produk saingan. Lagipula, keuntungan pada umumnya akan menurun karena usia produk semakin menua. Dengan dilaksanakannya strategi ini, diharapkan dapat meningkatkan laba perubahan, dengan kata lain dapat meningkatkan volume penjualan suatu perusahaan.

b.      Efisiensi biaya produksi dan pemasaran
Agar perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain dibutuhkan suatu proses produksi yang efisien dan efektif, yang dapat dicapai jika ditunjang dengan perencanaan dan pengendalian kualitas produk yang optimal. Dengan demikian, perusahaan dapat menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas produk yang dihasilkan.
Setiap penyimpangan atau kesalahan yang terjadi pada proses produksi harus dideteksi sedini mungkin sehingga dapat mengurangi pemborosan biaya yang dikeluarkan untuk memproses kembali barang yang cacat. Konsumen menjadi puas dan setia terhadap produk yang ada yang nantinya akan meningkatkan penjualan juga, yang dikarenakan hasil produksi yang berkualitas. Produk cacat dan unit yang dikerjakan ulang merupakan hal yang harus mendapat perhatian yang cukup besar dari perusahaan. Karena hal tersebut akan mempengaruhi efisiensi dan efektifitas serta kelancaran kegiatan produksi dan juga mempengaruhi produksi barang yang akan dipasarkan.
Dalam efisiensi biaya pemasaran, repeat customer merupakan sumber pemasaran yang dapat merekomendasi layanan kepada teman dan rekannya dan mendukung secara positif layanan dan produk yang ditawarkan. Mereka merupakan sumber word of mouth. Hal ini tentu akan mengurangi biaya pemasaran bagi perusahaan yang pada akhirnya akan meningkatkan profit.

c.       Penyediaan cadangan valuta asing
Penyediaan cadanga valuta asing merupakan hal yang penting karena keterbatasan cadangan valuta asing ini menyebabkan kemampuan untuk mengimpor barang-barang baik bahan baku; maupun barang modal yang sangat dibutuhkan untuk pembangunan sektor industri menjadi terbatas pula (Sari, 2006). Belum lagi ditambah dengan adanya demonstration effect yang dapat menyebabkan perubahan pola konsumsi masyarakat. Akibat dari lambatnya laju pembangunan sektor industri, seringkali menyebabkan laju pertumbuhan supply barang tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan permintaan.

d.      Strategi hedging
Strategi hedging atau lindung nilai adalah suatu investasi yang dilakukan khususnya untuk mengurangi atau meniadakan risiko pada suatu investasi lain. Lindung nilai adalah suatu strategi yang diciptakan untuk mengurangi timbulnya risiko bisnis yang tidak terduga, di samping tetap dimungkinkannya memperoleh keuntungan dari invetasi tersebut. Prinsip hedging adalah menutupi kerugian posisi aset awal dengan keuntungan dari posisi instrumen hedging. Sebelum melakukan hedging, hedger hanya memegang sejumlah aset awal. Setelah melakukan hedging, hedger memegang sejumlah aset awal dan instrumen hedging-nya disebut portfolio hedging (Putro & Hardanto, 2012). Dengan transaksi hedging, maka fluktuasi nilai tukar rupiah akan lebih terkendali. Selama ini kebutuhan pembayaran utang luar negeri diambil dari pasar spot yang riskan terhadap fluktuasi. Apabila dilakukan hedging, valas yang dibutuhkan untuk hedging akan menurunkan permintaan valas di pasar spot Indonesia.
Dengan dilakukannya berbagai strategi manajemen risiko tersebut, diharapkan perusahaan tidak akan terkena dampak yang terlalu besar dari pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini tengah dialami oleh Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA


Ikatan Bankir Indonesia. (2012). Manajemen Risiko 2: Mengidentifikasi Risiko Likuiditas, Reputasi, Hukum, Kepatuhan, dan Strategik Bank. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Ikatan Bankir Indonesia. (2014). Memahami bisnis bank syariah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Lingga, R. A. (2018, September 6). Rupiah melemah ke kisaran 15.000, perlukah masyarakat panik? Retrieved September 6, 2018, from BBC Indonesia: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45424105
Mahesa, O. A. (2018, September 5). Rupiah Melemah, Begini Strategi Pemerintah Hadapi Gejolak Ekonomi Global. Retrieved September 6, 2018, from Klik Positif: http://finansial.klikpositif.com/baca/37858/rupiah-melemah--begini-strategi-pemerintah-hadapi-gejolak-ekonomi-global
Mardiyanto, H. (2009). Intisari manajemen keuangan. Jakarta: Grasindo.
Nordiansyah, E. (2018, June 14). Waspada Gerak Rupiah dengan Rencana Fed Rate Naik 2 Kali Lagi . Retrieved September 6, 2018, from Metro TV News: http://ekonomi.metrotvnews.com/makro/GNlAM5Bb-waspada-gerak-rupiah-dengan-rencana-fed-rate-naik-2-kali-lagi
Putro, & Hardanto, S. (2012). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Instrumen Derivatif Sebagai Pengambilan Keputusan Hedging (Studi Kasus Pada Perusahaan Automotive and Allied Products Yang Terdaftar di BEI Periode 2006-2010). Skripsi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro.
Sari, D. I. (2006). Akuntansi Inflasi dalam Menilai Relevansi Laporan Keuangan Suatu Perusahaan. Akademia.
Umar, H. (2000). Business an introduction. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


Ini hanya sampel saja…
Mau tau versi lengkapnya?
Atau mau order (custom) sesuai request juga bisa

Silahkan WA/ Call ke o85868o39oo9 (Diana)
Ditunggu yaa.. Happy Order :)


EUROPEAN UNION CRISIS



EUROPEAN UNION CRISIS

CHAPTER I
Introduction

A.    Background
Although European Union member states are working hard to cope with economic crisis in this area, various rating agencies reports show a very critical Europe economic condition particularly in the Euro Zone. Rating agencies Standard and Poor’s (S&P), Moody’s and Fitch report the falling down of Euro Zone member states’ credit ratings. These agencies also warn about powerful states namely France and Germany. And recently the agencies decreased rating of several banks in Europe.
Speaking of European Union crisis does surely regard to the case of Greek’s economic failure by which spread to other European Union states, e.g Portugal, Italy, Ireland, Greek, and Spain. As predicted as the trigger of European crisis, Greek is a state with highest debt ratio which is 142.8% of governmental debt followed by Italy (119.0%), Belgium (96.8%), Ireland (96.2%), Portugal (93%), Germany (83.2%), France (81.7%), Hungary (80.2%) and United Kingdom (80.0%).
While being states with strongest economics systems, Germany and France have to push their effort to repair crisis European Union is coping with, to avoid economic system from falling down due to decreasing Euro Zone, by push down the treat as a Europe zone member, so all country should fulfill the obligation as requirement to defending the stabilization of economics in this area, and as quickly make the economic stabilization in European Union.

B.     Problems
1.      What background causes European Union crisis?
2.      How to cope the crisis in European Union?
C.    Objectives
1.      Find the arrangement solutions of the crisis in European Union
2.      To find the causes of crisis in European Union

CHAPTER II
Discussion
A.    The background causes the European Union crisis
European Union crisis begin in 2011 when global economics crisis back to occur and reach the culmination, this time in European area. Interesting to tracing, what actually happen in European countries so this one of the most prosperous area in the world then involve with problems that worried can pulled down one single currency system they have. Tracing European crisis simply can done by put the chronology.
Before, need to be known that European area in this chapter means all countries in Euro Zone, countries which using Euro as single currency. Today there are 17 member countries join this euro area, such as: Austria, Belgium, Cyprus, Estonia, Finland, France, Germany, Greece, Ireland, Italy, Luxembourg, Malta, Netherland, Portugal, Slovakia, Slovenia, and Spain.




Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω

            Europe debt crisis coming from Greece, which then continues to Ireland and Portugal. That three countries having debt bigger than their GDP, and also already experiencing deficit (the country output bigger than GDP). The crisis start felt in the end of 2009, and more discussed in middle 2010. At 2 May 2010, IMF finally agreed the bailout package as €110 billion to Greece, €85 billion to Ireland, and €78 billion to Portugal. Then the worries of crisis that will happen stopped for a while. Effects of this European crisis quite impacted to IHSG, which those times descend rapidly from 2,971 to 2,514.
            Greece maybe is the result of failed government policy in the past. In 1974, Greece starts the new stage of governmental, from military junta to socialist. This new government then takes many debts to defrayed subsidy, pension fund, government worker salary, etc. Those debts increase until 1993, Greece debt position already above its GDP and until now still. Nowadays, Greece debts predicted already reach 120% from its GDP position, where many analysts predict that the real data maybe bigger than that.
            Until early 2000s, no one pay attention to the facts that Greece debt already too much. Instead, from 2000 to 2007, Greece noted economics growth to 4.2% per year, that is the highest number in Euro zone, result from many foreign financial capitals to that country. The condition turn back when post global crisis 2008 where other countries start to rising from recession, two of primarily economics sector in Greece is tourism and shipping sectors, precisely noted the decreasing of income to 15%. People then realize maybe there is something wrong with Greece economics.
            The condition become worse when early 2010, knowing that Greece government pay Goldman Sachs and some other investment bank, to straighten up transaction that can hide the real number of government debt. Greece government also known had been tinkering the statistic data of macro economy, so their economics condition look fine, whereas not. In May 2010, Greece once again noticed had experience deficit up to 13.6%. one of the main cause of that deficit is there so many tax blackout case, that predicted already disadvantage country up to US$ 20 billion per year.
            When IMF gives loan, IMF introduces some requirements of saving budget to Greece government. Such as cut the subsidy for government worker and pensioners, improvement of income tax to 23%, improvement export tax of luxury stuff, gasoline, cigarette, and alcoholic beverage, to government company must decreased from 6000 to just 2000 companies. Thereby, this policy so difficult to realize.
            On the same month, when Greece government announce budget saving policy, Greece citizen do large scale demonstration in Athens to decline that policy. Until now, there is no certainty yet, whether Greece government success applying all those policy or not. One of famous debt rating institute, Moody’s, still decide the debt rating of Greece on one lowest level, that is CCC.
           


Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω

B.     Methodology
1.      Research methodology used by this paper is descriptive method
2.      Data gathering technique use documents and literature list because almost all data founded from data gathering through newspaper and internet.


 CHAPTER III
Closing

A.    Conclusion
European crisis development unstopped till here, today European leaders especially Prime Minister if Germany Angela Merkel, and President of France Nicolas Sarkozy, are making program to finish the crisis in European area. Whether Euro Zone will survive and continued their success as pioneer integration of currency as they hope all this time, or the other way precisely fall down and make crisis in other area?
A simple learning but important from the crisis occur in Europe is the importance of carefulness before decide whether all country in the same standard position to have one single currency system and also another learning that how much importance of debt to development of a country, but without ability to manage it, that thing can be trick of  the fall of that country itself.

B.     Suggestion
1.      Advisable all member countries of European Union cooperate in overcome this crisis so Euro Zoe became stable again.
2.      To the countries who through the crisis as Greece, to fix their government system and country structure so not involve in long-term crisis.



Ini hanya versi sampelnya saja yaa...
mau tau kelanjutannya?

TRUSTED !! Perlu dibantu tugas kuliahnya? Cari jastug? 
  • Sebutin order detailnya 
  • Estimasi (biaya & waktu)
  • Transfer DP 50%
  • Progress pengerjaan
  • Due Date hasilnya dikirim
  • Pelunasan 50%
Segera contact Paper Underground saja!
WA: 085 868O 39OO9 (langsung ke Owner)
Email: paper_underground@yahoo.com

Have great day, dear!
Thank you…